Tuesday, March 19, 2013

HIV/AIDS


HIV/AIDS
Di Indonesia HIV (Human Immunodeficiency Virus) telah menjadi epidemi yang angkanya cukup tinggi di seluruh Asia. Saat ini, epidemi HIV masih terkonsentrasi dengan tingkat penularan yang rendah pada populasi umum, namun tinggi pada populasi-populasi tertentu. Ancaman epidemi tersebut telah terlihat melalui data infeksi HIV yang terus meningkat khususnya pada kelompok beresiko tinggi di beberapa daerah.

Diperkirakan pada 2010 akan ada sekitar 110.000 orang yang menderita atau meninggal karena AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome). Dan sekitar 1 juta orang mengidap HIV.
Memang, penularan HIV tidaklah memandang usia, agama, status sosial, pendidikan, jenis kelamin, ataupun lainnya. Kurangnya informasi dan pengetahuan serta kesadaran masyarakat yang rendah tentang kesehatan reproduksi adalah salah satu sebab tingginya angka penularan virus tersebut.
Oleh karena itu, pendidikan kesehatan reproduksi bisa jadi salah satu tahap untuk mencegah semakin meluasnya penularan HIV. Selain pendidikan kesehatan reproduksi termasuk pada remaja, cara lain yang dapat dilakukan adalah intensifikasi terapi lanjut bagi HIV positif; pencegahan komplikasi pada penderita;
perbaikan fasilitas kesehatan; serta penurunan beban sosial atau diskriminasi bagi penderita.
Umumnya upaya pencegahan penularan HIV dilakukan melalui tiga tahap. Antara lain:

1. Pencegahan Primer
Pencegahan primer dilakukan sebelum seseorang terinfeksi HIV. Hal ini diberikan pada seseorang yang sehat secara fisik dan mental. Pencegahan ini tidak bersifat terapeutik; tidak menggunakan tindakan yang terapeutik; dan tidak menggunakan identifikasi gejala penyakit. Pencegahan ini meliputi dua hal, yaitu:
Peningkatan kesehatan, misalnya: dengan pendidikan kesehatan reproduksi tentang HIV/AIDS; standarisasi nutrisi; menghindari seks bebas; secreening, dan sebagainya.
Perlindungan khusus, misalnya: imunisasi; kebersihan pribadi; atau pemakaian kondom.

2. Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder berfokus pada Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) agar tidak mengalami komplikasi atau kondisi yang lebih buruk. Pencegahan ini dilakukan melalui pembuatan diagnosa dan pemberian intervensi yang tepat sehingga dapat mengurangi keparahan kondisi dan memungkinkan ODHA tetap bertahan melawan penyakitnya.
Pencegahan sekunder terdiri dari teknik skrining dan pengobatan penyakit pada tahap dini. Hal ini dilakukan dengan menghindarkan atau menunda keparahan akibat yang ditimbulkan dari perkembangan penyakit; atau meminimalkan potensi tertularnya penyakit lain.

3. Pencegahan Tersier
Pencegahan tersier dilakukan ketika seseorang teridentifikasi terinfeksi HIV/AIDS dan mengalami ketidakmampuan permanen yang tidak dapat disembuhkan. Pencegahan ini terdiri dari cara meminimalkan akibat penyakit atau ketidakmampuan melalui intervensi yang bertujuan mencegah komplikasi dan penurunan kesehatan.

Kegiatan pencegahan tersier ditujukan untuk melaksanakan rehabilitasi, dari pada pembuatan diagnosa dan tindakan penyakit. Perawatan pada tingkat ini ditujukan untuk membantu ODHA mencapai tingkat fungsi setinggi mungkin, sesuai dengan keterbatasan yang ada akibat HIV/AIDS.
Tingkat perawatan ini bisa disebut juga perawatan preventive, karena di dalamnya terdapat tindak pencegahan terhadap kerusakan atau penurunan fungsi lebih jauh. Misalnya, dalam merawat seseorang yang terkena HIV/AIDS, disamping memaksimalkan aktivitas ODHA dalam aktivitas sehari-hari di masyarakat, juga mencegah terjadinya penularan penyakit lain ke dalam penderita HIV/AIDS; Mengingat seseorang yang terkena HIV/AIDS mengalami penurunan imunitas dan sangat rentan tertular penyakit lain.
Selain hal-hal tersebut, pendekatan yang dapat digunakan dalam upaya pencegahan penularan infeksi HIV/AIDS adalah penyuluhan untuk mempertahankan perilaku tidak beresiko. Hal ini bisa dengan menggunakan prinsip ABCDE yang telah dibakukan secara internasional sebagai cara efektif mencegah infeksi HIV/AIDS lewat hubungan seksual. ABCDE ini meliputi:
A = abstinensia, tidak melakukan hubungan seks terutama seks berisiko tinggi dan seks pranikah.
B = be faithful, bersikap saling setia dalam hubungan perkawinan atau hubungan tetap.
C = condom, cegah penularan HIV dengan memakai kondom secara benar dan konsisten untuk para penjaja seksual.
D = drugs, hindari pemakaian narkoba suntik.
E = equipment , jangan memakai alat suntik bergantian.

Terakhir, pendekatan agama bagi sebagian besar masyarakat juga merupakan pendekatan yang penting. Sebab, dengan meningkatkan ajaran agama dan nilai budaya diharapkan perilaku hubungan seks berisiko dapat dikurangi termasuk di kalangan muda mudi, sehingga angka pertumbuhan HIV dapat menurun.